Firaun & Malik dalam Quran
October 18th, 2005 by huget
MetroTV 16 Oktober 2005, waktu sahur.
Pak Quraish membahas surah Al Haaqqah. Dan ketika membahas ayat ke 9, dibahas pula mengenai Firaun.
Al Haaqqah (69:9): Dan telah datang Firaun dan orang-orang
yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkir balikkan
karena kesalahan yang besar.
terkemuka dari kaumnya): "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor
sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang
kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya
yang kering." Hai orang-orang yang terkemuka: "Terangkanlah kepadaku
tentang takbir mimpiku itu jika kamu dapat menakbirkan mimpi."
Sedangkan raja Mesir pada zaman nabi Musa AS, Quran menyebutnya dengan Firaun.
Nah kenapa bisa berbeda?
Pak Quraish membahasnya.
Menurut sebagian ulama, Mesir itu pernah dikuasai oleh bangsa non
Mesir, yaitu bangsa Heksos. Nah nabi Yusuf itu katanya hidup pada zaman
bangsa Heksos berkuasa, sedangkan nabi Musa hidup pada zaman bangsa
Mesir / pribumi berkuasa.

begitu mendengar hal itu, langsung deh otak saya muter kenceng (emang
dari tadi udah muter, tapi ga pusing koq! :D) dan menggumam "wah
sepertinya ga gitu deh". Tidak terlalu signifikan sehingga dibedakan
cuma berdasarkan bangsanya saja. Kalo sebutan raja Mesir pada zaman bangsa Heksos
adalah "X", maka disebutkan "X", bukan "Malik", jadi setara dgn sebutan
"Firaun" untuk raja Mesir pada zaman bangsa Mesir pribumi pada masa nabi Musa. Pasti ada penjelasan yg lebih kena daripada ini,
masa’ Allah memakai kata itu tidak berdasar kuat?
Menurut saya, raja Mesir / Firaun pada zaman nabi Yusuf itu adalah
seorang raja / Firaun yg baik (adil, bijak, dll) sehingga berkuasa baik
de jure dan de facto,
yaitu berkuasa sampai ke relung hati rakyatnya. Maka dari itu Allah
menamainya dalam Quran dgn Malik, yaitu penguasa/raja, sebenar2nya.
Sedangkan pada masa nabi Musa, raja Mesir / Firaun yg berkuasa adalah
raja / Firaun yg zhalim (tidak adil, tidak bijak, dll) sehingga
kekuasaannya hanya sampai pada legitimasi, tidak sampai ke relung hati
rakyatnya secara keseluruhan, dengan kata lain, kekuasaannya hanya de jure,
jika ada kesempatan maka sebagian rakyatnya akan memberontak alias
tidak mau dikuasai. Maka Allah menamainya dalam Quran dgn nama jabatan
yg diberikan manusia, Firaun, bukan kata esensi seperti Malik.
Setelah saya sempat berpikir demikian, pak Quraish yg tetap berbicara,
melanjutkan. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa kata Malik digunakan
utk raja Mesir pada zaman nabi Yusuf karena raja tersebut adalah raja
yg baik, sedangkan kata Firaun dipakai utk raja Mesir pada zaman nabi
Musa itu karena raja / Firaun tersebut adalah raja yg zholim.
[ Mungkin karena terbatasnya waktu, maka pembahasan perbedaan itu cuma sekian saja dari pak Quraish ]
Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan
sinonimnya/makna yang dikandungnya:
- Al-harts dan al-zira’ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali;
- Al-’ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh),
masing-masing 27 kali; - Al-dhallun dan al-mawta (orang sesat/mati
[jiwanya]), masing-masing 17 kali; - Al-Qur’an, al-wahyu dan Al-Islam (Al-Quran, wahyu dan
Islam), masing-masing 70 kali; - Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-masing 49
kali; - Al-jahr dan al-’alaniyah (nyata), masing-masing 16
kali.
Wah, Al-aql itu disamakan dgn An-nur !!!
Jadi, apa kesimpulan pembaca nih? 

In Harmonia Progressio
Tetapi

Yah hitung2 bermain otak kanan dalam istirahat.