Pahlawan? Hari?

Pahlawan? Hari? Nov 10, ‘06 11:15 PM
for everyone

Allahu Akbar!

Tadi saya shalat Jumat di Dephan, dan penceramahnya bercerita tentang pak Dirman. Ketika tentara Belanda menyerang Yogyakarta
pada 19 Desember 1948, Panglima Besar Jenderal Soedirman baru saja
dioperasi paru-parunya sehingga hanya tinggal satu saja dan masih
lemah. Karena mendengar dentuman dan ledakan serta pesawat-pesawat
melintas, dengan bergegas pak Dirman mencoba untuk berdiri, bersiap,
dan menuju istana negara. Ketika bertemu presiden Soekarno, ia
memberikan kesiapannya untuk memimpin TNI dan kembali ke tengah
pasukan/para prajurit. Bung Karno berkata, "Dimas [panggilan akrab
untuk pak Dirman] istirahat saja dahulu karena masih sakit". Pak Dirman
menjawab, "Soedirman memang sakit, tetapi panglima TNI tidak boleh
sakit". Dan bung Karno tak dapat mencegah lebih lanjut, dan sejarah
mencatat pak Dirman bergerilya dengan ditandu, bukan berbaring di
rumah….

Dalam kejadian di Somalia 1993, terlepas dari hal-hal yang pro dan kontra, di mana  18 prajurit AS tewas. Dari 18 yang tewas itu hanya 2 yang mendapat medal of honour,
itu dikarenakan 2 orang itu memberikan lebih dari yang
diharuskan/diperintahkan. (At the second crash site, two Delta Force
snipers, SFC Randy Shughart and MSG Gary Gordon, were inserted by
helicopter (at their own request, permission was denied twice by
Command but granted when they persisted and made a third request) to
protect the injured crew from the approaching mob. Link).

Dulu
pernah baca sekilas kata2 depan buku "Bukan di Negeri Dongeng" yang
mengungkapkan bahwa betapa susahnya cari pahlawan atau orang yang
sangat baik di sekitar kita. Hmm saya sempat berkomentar bahwa bisa
benar dan bisa tidak, karena bisa saja justru ada di antara kita hanya
saja tidak disadari atau terdeteksi oleh kita. Kalau dalam TNI, semakin
hebat kemampuan seorang tentara maka akan terlihat pada bajunya
seberapa banyak brevet atau tab yang ada. Raider yang berkemampuan 3 kali kemampuan infanteri biasa, punya sekian brevet. Meningkat lagi jumlahnya pada Kopassus, Kopaska, Taifib Marinir, dan Korpaskhas.
Tapi ternyata kemudian yang lebih elit lagi malah tidak ada brevet dan
malah tidak ada tanda-tanda khusus atau berpakaian seperti orang-orang
kebanyakan atau umum. Malah, yang terakhir ini kalau bertugas,
kesuksesannya itu malah ada yang ditutupi seperti tidak ada apa-apa
sama sekali, kehidupan masyarakat umum berjalan seperti biasa. Hmm…

Cepat, Senyap, tepat.

Di TransTV tadi ada film "Tears of The Sun", terlepas dari pro dan kontra, saat akhir film ada kata-kata; "The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. - Edmund Burke ".

Pahlawan….
Di mana kah kau berada?
Apakah kau enggan? Segan? Bahkan hanya bayangan? Angan?
Ataukah aku yang tak merasa?
Bahwa kau sudah berada di lingkungan?
Ataukah sudah ada dalam diri ini tinggal dibuka saja?
Atau kah…..? Atau kah…..?
Entah lah….
Bingung, lelah.

———————————————
PFC Downey: I don’t understand. Colonel Jessep said he ordered the Code Red. What did we do wrong?
Galloway: It’s not that simple.
PFC Downey: What did we do wrong?! We did nothing wrong!
Lance
Cpl. Dawson: …yeah we did. We were supposed to fight for people who
couldn’t fight for themselves. We were supposed to fight for Willy.
Kaffee: Harold. You don’t need to wear a badge on your arm to have Honor.
Lance Cpl. Dawson: Ten-Hut! There’s an officer on deck.
From "A Few Good Men"

Leave a Reply