Archive for October, 2005

Pagi Ini 24 Oktober 2005

Sunday, October 23rd, 2005
Senin 24 Oktober 2005.
Ketika di atas
bus Mayasari Bakti 107, tersadar bahwa udara terasa sedang, cenderung
sejuk. Tidak panas seperti biasa. Kemudian melihat sinar matahari yg
mengenai tangan saya, ternyata tidak panas. menengadah ke atas,
ternyata matahari memang tertutup awan mendung sedang, yg tipis
sehingga sinar matahari tetap sampai namun tidak terik. Ditambah jalan
yang tidak macet seperti biasa, mungkin karena Romadhon.  Padahal
jam 10 siang lho! Yang biasanya macet, terik, dan cukup terasa asap
polusinya di hidung! Itu lah Jakarta sehari2.

Apakah ada kaitan Lailul Qodar? Entahlah. Mudah2an semua mendapatkannya. Amin.
Memang beberapa hari kemarin, Jakarta disertai mendung & hujan.
Dan mungkin akan berlanjut untuk sekian hari ke depan [Ramalan cuaca? ]
Saya coba menikmati perjalanan dalam bus ini. Sebuah "oase" dalam menjalani ruang dan waktu.

Morning has broken
Like the first morning
Blackbird has spoken
Like the first bird
Praise for the singing
Praise for the morning
Praise for them springing
Fresh from the world

Sweet the rains new fall
Sunlit from heaven
Like the first dew fall
On the first grass
Praise for the sweetness
Of the wet garden
Sprung in completeness
Where his feet pass

Mine is the sunlight
Mine is the morning
Born of the one light
Eden so play
Praise with elation
Praise every morning
God’ s recreation
Of the new day

Morning has broken
Like the first morning
Blackbird has spoken
Like the first bird
Praise for the singing
Praise for the morning
Praise for them springing
Fresh from the world

-Cat Stevens/Yusuf Islam-

Before the life battlecry recited again…..

Firaun & Malik dalam Quran

Tuesday, October 18th, 2005

MetroTV 16 Oktober 2005, waktu sahur.
Pak Quraish membahas surah Al Haaqqah. Dan ketika membahas ayat ke 9, dibahas pula mengenai Firaun.

Al Haaqqah (69:9): Dan telah datang Firaun dan orang-orang
yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkir balikkan
karena kesalahan yang besar.

Firaun adalah sebutan untuk raja di Mesir. Nah menariknya, Quran tidak menyebut semua raja-raja Mesir itu dengan sebutan Firaun.

Untuk raja Mesir pada zaman nabi Yusuf AS, Quran menyebutnya sebagai Malik (raja / penguasa).

Yusuf (12:43): Raja berkata (kepada orang-orang
terkemuka dari kaumnya): "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor
sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang
kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya
yang kering." Hai orang-orang yang terkemuka: "Terangkanlah kepadaku
tentang takbir mimpiku itu jika kamu dapat menakbirkan mimpi."

Sedangkan raja Mesir pada zaman nabi Musa AS, Quran menyebutnya dengan Firaun.

Yunus (10:18) "Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Firaun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas."

Nah kenapa bisa berbeda?
Pak Quraish membahasnya.

Menurut sebagian ulama, Mesir itu pernah dikuasai oleh bangsa non
Mesir, yaitu bangsa Heksos. Nah nabi Yusuf itu katanya hidup pada zaman
bangsa Heksos berkuasa, sedangkan nabi Musa hidup pada zaman bangsa
Mesir / pribumi berkuasa.


Nah,
begitu mendengar hal itu, langsung deh otak saya muter kenceng (emang
dari tadi udah muter, tapi ga pusing koq! :D) dan menggumam "wah
sepertinya ga gitu deh". Tidak terlalu signifikan sehingga dibedakan
cuma berdasarkan bangsanya saja. Kalo sebutan raja Mesir pada zaman bangsa Heksos
adalah "X", maka disebutkan "X", bukan "Malik", jadi setara dgn sebutan
"Firaun" untuk raja Mesir pada zaman bangsa Mesir pribumi pada masa nabi Musa. Pasti ada penjelasan yg lebih kena daripada ini,
masa’ Allah memakai kata itu tidak berdasar kuat?

Menurut saya, raja Mesir / Firaun pada zaman nabi Yusuf itu adalah
seorang raja / Firaun yg baik (adil, bijak, dll) sehingga berkuasa baik
de jure dan de facto,
yaitu berkuasa sampai ke relung hati rakyatnya. Maka dari itu Allah
menamainya dalam Quran dgn Malik, yaitu penguasa/raja, sebenar2nya.
Sedangkan pada masa nabi Musa, raja Mesir / Firaun yg berkuasa adalah
raja / Firaun yg zhalim (tidak adil, tidak bijak, dll) sehingga
kekuasaannya hanya sampai pada legitimasi, tidak sampai ke relung hati
rakyatnya secara keseluruhan, dengan kata lain, kekuasaannya hanya de jure,
jika ada kesempatan maka sebagian rakyatnya akan memberontak alias
tidak mau dikuasai. Maka Allah menamainya dalam Quran dgn nama jabatan
yg diberikan manusia, Firaun, bukan kata esensi seperti Malik.


Setelah saya sempat berpikir demikian, pak Quraish yg tetap berbicara,
melanjutkan. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa kata Malik digunakan
utk raja Mesir pada zaman nabi Yusuf karena raja tersebut adalah raja
yg baik, sedangkan kata Firaun dipakai utk raja Mesir pada zaman nabi
Musa itu karena raja / Firaun tersebut adalah raja yg zholim.
[ Mungkin karena terbatasnya waktu, maka pembahasan perbedaan itu cuma sekian saja dari pak Quraish ]

Koq bisa ya!

Pada buku karangan Quraish Shihab, "Membumikan Al-Quran", ada hal yg menarik.
Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan
sinonimnya/makna yang dikandungnya:

  • Al-harts dan al-zira’ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali;
  • Al-’ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh),
    masing-masing 27 kali;
  • Al-dhallun dan al-mawta (orang sesat/mati
    [jiwanya]), masing-masing 17 kali;
  • Al-Qur’an, al-wahyu dan Al-Islam (Al-Quran, wahyu dan
    Islam), masing-masing 70 kali;
  • Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-masing 49
    kali;
  • Al-jahr dan al-’alaniyah (nyata), masing-masing 16
    kali.

Wah, Al-aql itu disamakan dgn An-nur !!!

Jadi, apa kesimpulan pembaca nih?


In Harmonia Progressio

 

Tangan Dingin?

Monday, October 17th, 2005
Bukan karena pegang es batu!
Ketika hendak membuka pintu belakang mobil Kijang, agak susah dibuka
oleh bapak. Ya maklum lah, setelah rusak dan diperbaiki. Maklum mobil
tua. Kemudian saya datang dan dgn biasa, langsung bisa membuka pintu
itu. Dan kemudian ada masalah dgn kaca jendela yg tidak bisa ditutup,
ternyata karena karetnya tergeser oleh kaca jendela. Kemudian dgn
bapak, saya kembalikan seperti semula sehingga kaca jendela bisa
ditutup kembali. Dan saya menemukan sesuatu dan saya bilang ke bapak
bahwa lis besi pinggiran kaca jendela itu tertukar dgn jendela yg lain
sehingga ujungnya tidak cocok mengakibatkan tergesernya karet. Dan
setelah itu ibu saya mengatakan bahwa tangan saya ini dingin. Bertangan
dingin?

Hari Jumat kemarin saya membantu suatu baitulmaal menyelesaikan soal
software akuntansinya. Yg membuat softwarenya itu teman saya, saya
hanya mengkoordinasikan dan membantu. Nah pada hari Jumat kemarin, ada
masalah dalam tutup bukunya. Teman saya itu sudah memperbaiki kemudian
mengirimkannya lewat email ke saya. Ketika saya instal, ternyata tidak
juga berjalan baik, dan teman saya juga bingung karena di tempatnya
bisa berjalan dgn baik. Saya menduga karena telah di-scan antivirus.
Dgn sedikit mikir, saya proses databasenya dgn backup. Dan -
alhamdulillah - masalah utama terselesaikan. Untuk keseluruhan, tetap
saja perlu instal software yg benar dari teman saya itu.

Jadi teringat juga beberapa tahun lalu ketika bersama teman2 ada
kerjaan dgn perusahaan asing dalam proyek jaringan biologi tropis antar
beberapa PTN dgn ditjen dikti & Biotrop SEAMEO. Teman saya bilang
bahwa proyek itu "time critical", tetapi kami melaluinya malah tidak
seperti itu. Malah seperti belajar & jalan2. Sempat sekian hari
pulang malam untuk mengejar deadline setting server dll, tetapi hal itu
dirasakan biasa saja, ibarat pulang larut sehabis jalan2. Dan semuanya
pun telah terkerjakan dgn baik.

Sebenarnya, bukan saya bertangan dingin, tetapi ada katak memikul
kerbau, eh lho koq jadi pantun SD? Tetapi
perasaan saya sedang tenang dan tidak ada beban, sehingga semua masalah
bisa ditemukan jalan keluarnya, bahkan dengan cepat.

Hehehe, bukan berarti saya tidak pernah "stress" lho ya!

Ibarat prosesor dalam komputer. Jika dibanjiri dgn data tanpa ada
kemampuan khusus menghadapinya, maka jelas akan membuat prosesor itu
"hang". Untuk itu perlu lah ada manajemen data sehingga prosesor dapat
menerima jumlah data yang sesuai spesifikasinya sehingga bisa memproses
data tersebut dgn baik.

Bisa jadi komputer yg hebat itu bukan pada kemampuan prosesornya yg
lebih hebat, tetapi kemampuan pemrosesan datanya sehingga seluruh data
bisa diproses dgn sangat baik tanpa ada yg "hang".

Ada banyak pengetahuan yg terserak mulai dari petunjuk Tuhan sampai
hasil belajar manusia. Mulai dari sembahyang/sholat yang menuntun kita
lebih tenang & fokus serta berpikir jernih tentang tujuan ke depan,
sampai metode "mind management" dalam psikologi.

Sekian tahun lolos, eh lulus….

Monday, October 10th, 2005
Wisudahv23Sekian tahun sudah ku lolos dari
perguruan tinggi meraih strata 1. 7 Oktober hari wisudaku. Ku termasuk
yg lebih lambat menyelesaikan sekolah. Mungkin ku termasuk yg malas
& bodoh, ya? Yah, akhirnya lolos juga sekolahnya.

Bersamaku adalah sisa2 dari temanku seangkatan. Padahal mereka telah
menyelesaikan mata kuliahnya cukup tepat waktu, hanya saja lambat dalam
menyelesaikan Tugas Akhirnya. Sepertinya memang bukan faktor kebodohan,
tetapi faktor konsentrasi saja, ya? Salah satu temanku itu ternyata
sudah bekerja atau mengerjakan sesuatu di luar kampusnya, sehingga
TA-nya itu seperti terabaikan. Hihihi, jadi teringat ketika ku masih
dalam proyek temanku, diberitahu bahwa pembimbingku akan ke LN dalam 6
bulan, wah harus kembali ke TA-ku yg kutinggal sebelum beliau
berangkat! (^_^)

Jadi teringat tahun ini (2005) ada pemberitaan mahasiswi termuda yg
masuk FK UGM
. Termuda! Menyelesaikan SD, SLTP,
& SLTA masing2 lebih cepat daripada waktu normal. Ya karena
ada kelas percepatan atau ada hal lain. Usia 14 tahun. Mungkin menjadi
dokter dalam usia 20 tahun, wow! Membuat kagum, dan bertanya, "kenapa
ku tak bisa sepertinya?". Kemudian ada temanku seangkatan yg menonton
suatu acara TV bercerita tentang ekspansi bisnis Ir Ciputra dalam usia
yg lanjut saat ini. Dan katanya, Ir Ciputra menyelesaikan sarjana
strata 1-nya menjelang usia 3 dekade! Dan teringat pula dgn Ir Sarwono
Kusumaatmaja yg menyelesaikan sarjana strata 1-nya dalam waktu 11
tahun! Apakah si mbak muda itu bisa seperti mereka ya? Bisa lebih
hebat? Masih ada waktu utk membuktikannya.
My opinion: efficiency doesn’t make effectiveness. Two things different. (^_^)

Ku sempat tertidur di acara wisuda itu. Hehehe, that’s me!
Screensavings. (^_^). Tali topi Toga biru segi empat [yg biasanya di
tempat lain berwarna hitam bersegi lima] langsung disampirkan ke
belakang oleh masing2 wisudawan/wati sendiri [yg mungkin di tempat lain
dilakukan oleh Dekan/Rektor utk para wisudawan/watinya]. Dan kemudian
berbaris utk menerima map ijazah yg diserahkan oleh Dekan didampingi
ketua Jurusan. Hei, saya lolos eh lulus? Hmmm.

Jadi teringat sidang Tugas Akhirku. Lancar2 saja sampai ada satu yg
kurang bisa aku jawab, dan langsung menjadi bulan2an pertanyaan. Dan
akhirnya menjadi tugas tambahan bagiku untuk mencari jawaban tentang
hal yg dipertanyakan itu. Dikatakan bahwa tugas ini mempengaruhi nilai
TA-ku. Dan langsung aku ke lab mencari jawaban itu di Internet. Dan
setelah mendapatkannya ku menuju lab tempat salah satu pengujiku, Dr Ir
Sarwono Sutikno. Dan setelah semua pertanyaan beliau kujawab semua,
beliau berkata bahwa menjadi sarjana itu bukan berarti tahu semuanya,
tetapi mampu mencaritahu. Wah, OS [Orientasi Studi] terakhir ku sebelum
lulus kah?

Dan teringatku pada halaman depan buku TA-ku, yg kuisi dgn dua bagian kalimat2 penting.

"I don’t know what I may seem to the
world, but, as to myself, I seem to have been only like a boy playing
on the sea shore, and diverting myself in now and then finding a
smoother peeble or a prettier shell than ordinary, whilst the great
ocean of truth lay all undiscovered before me.
"
(Sir Isaac Newton)

"Katakanlah: Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis)
kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis
(ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan
sebanyak itu (pula).
"
(Al Kahfi 18:109)

In Harmonia Progressio!