Perginya Sang Mahaputera dan Mahaguru Berkemeja Putih.

November 21st, 2006 by huget

Kaget juga saya membaca berita lewat Herr Wikan
dan dari milist. Teringat kembali ketika bertemu dengan beliau
berkemeja lengan pendek dikeluarkan yang berwarna cerah polos
sebagaimana warna celana panjangnya, terlihat dan terasa bersahaya dan
bersahabat sebagaimana senyum khasnya yang sepertinya selalu saya lihat
jika bertemu. Dan ini tulisan dari seorang pembimbing saya waktu
mengerjakan tugas akhir, :


From: Armein Z. R. Langi

Perginya Sang Mahaputera dan Mahaguru Berkemeja Putih.
In memoriam Prof. Samaun Samadikun, 1931-2006

Rabu 15 November 2006, sms dari Irman Idris mengabarkan wafatnya Prof. Samaun Samadikun. Saya tidak bisa berbohong. Dalam hati kecil ada rasa terimakasih, beliau sudah bisa beristirahat di pelukan Sang Pencipta. Kesakitan dan penderitaan fisiknya akibat berbagai pengobatan sudah berakhir.

Kami berangkat sore itu menuju rumah duka di Kebayoran Baru. Saya memacu kendaraan merah saya, mencoba meninggalkan mobil biru. Tapi Kastam Astami di mobil biru tidak bergeming, terus mengekori mobil merah. Mobil lain yang dikendarai Adi Indrayanto dan Trio Adiono segera tertinggal jauh, entah belok ke mana dulu mereka itu… Kastam sebenarnya tidak pernah suka berkendaraan keluar kota, apalagi ke Jakarta. Tapi hari ini kita akan melihat beliau untuk terakhir kali. Mervin Hutabarat
berkomentar, berapa banyak yang akan berusaha melawat kita seperti ini nanti ya… OK, belum waktunya bersedih. Kami perlu tertawa sekarang. We need these laughters for the things to come…

Semua orang tersenyum saat melawat di rumah duka. Jangankan yang melawat. Yang dilawatpun tersenyum. Semua tenang, seperti sedang menyiapkan diri . Semua sedang mengumpulkan tenaga untuk menghadapi hari-hari esok. Hari-hari saat kesadaran penuh menerjang. Saat kehilangan beliau betul-betul merasuk….

Semua bercengkerama santai. Irman Idris tersenyum bangga karena ia sempat memandikan beliau. Ah seperti yang tidak tahu saja, semua iri dengan Irman, anak kesayangan beliau. Bagaimana tidak, pak Samaun licik nih, menghabiskan waktu terbanyak dengan Irman. Mata Irman merah. Ah rasakan, ini belum apa-apa, golden boy, tunggu minggu depan setelah semua tenang.

Malam itu, saya, Mervin Hutabarat, dan Rio Seto berhenti di warung Cipularang. Kami pesan kopi, karena hari sudah terlalu larut. Dengan sigap anak muda pelayan warung mengaduk kopi kami. Ah, tahukah engkau bahwa hari ini seorang mahaputera telah pergi? Tujuhpuluh lima tahun ia berjuang supaya anak mu menjadi orang pintar dan merdeka. Dan tidak lagi harus berjualan kopi tengah malam di tengah jalan tol begini.

Mana bisa menulis tentang orang besar ini? Kata-kata yang dipilih tidak akan cukup dan tidak akan adil. Toh anak-anak didiknya harus memulai. Budi Rahardjo mencoba mengirim email pagi itu. Ah, blogger nomer wahid di tanah air tidak mampu melawan kepedihannya. Kata-katanya terhenti. Onno Purbo banting setir dan menulis wikipedia. Excellent idea, Onno. Diapun tidak sanggup meneruskannya. Siapa memangnya yang sanggup? Tidak heran, banyak memilih diam…

Arak-arakan kuda perang bergemuruh. Menaiki gunung dan menuruni lembah. Sang panglima dengan gagah berani menerjang di ujung terdepan. Ia menyatakan perang pada keterbelakangan. Ia memusuhi ketertinggalan. Silicon Valley harus berdiri di Bandung. Mikroelektronika harus mensejahterakan rakyat. Rakyat harus mendapat lapangan kerja dari teknologi ini.

Ah, deru perang membahana. Apa kita bisa? tanya bala tentaranya. Ini teknologi tinggi. Panglima ini Doktor dari Stanford, berguru langsung pada penemu transistor. Ia penerima royalti dari panten nya di Amerika. Ia penulis di jurnal Nature. Jadi kalau dia bilang bisa, ya bisa… Sang panglima hanya tersenyum, mengangkat senjatanya, dan memacu kuda nya. Ikut aku, bila ada yang harus berkorban, akulah yang pertama…

September 2006. Perang sedang bergemuruh, dan langit memerah. Hawa Bandung panas. Bala tentara tertegun menegok ke belakang. Mengapa kuda perang sang panglima menyimpang dan menaiki bukit? Dari kejauhan ia melambai. Ia memerintahkan pasukan untuk meneruskan peperangan, tapi semua diam dan menatap nanar. Sang panglima sedang menapaki gunung keagungan. Gunung Sang Pencipta, Gunung Sang Panglima Yang Maha Tinggi.  Tidak ada kata yang terucap. Semua mengerti, tidak lama lagi ia akan
tiba di pucak. Tugas nya sudah akan berakhir. Markas Besar sudah mulai memanggilnya pulang….

November 2006. Satu per satu jubah kebesarannya tertanggalkan. Di rumah sakit MMC, kondisi fisik beliau menurun. Saya tahu dari pak Suhartono bahwa Eniman Yunus dan prof Adang Suwandi membawa rombongan STEI menjenguk beliau. Saya harus ikut! Kebetulan Budi Rahardjo dan Pak Merati bisa mengantarkan kami ke sana sekaligus menjenguk. Wah prof Samaun, insinyur sejati. Dalam kesakitannya, masih juga ia minta Prof. Soegijardjo untuk mendesain alat untuk tempat tidurnya. Memang ada pak Sukrisno dan Pak Sarwoko di situ yang bisa mewujudkannya. Tapi yah, kami semua tidak mau banyak bicara, panglima harus istirahat. "Take good care of your health", katanya sambil menyalami saya. Dua kali dia berpesan seperti itu, so I better listen. "I will be watching you form above.." katanya tersenyum. Budi tidak terima, dan dengan cepat menukas, "tidak pak, kami tunggu makan tiap selasa siang di PAU..!" Rupanya itu percakapan terakhir…

Di puncak itu ada salju putih. Jubah kebesaran di puncak adalah jubah putih. Jubah kesederhanaan. Ah, ia sudah menggunakan jubah kesahajaan ini sejak muda. Ia tahu semua pasukan balatentara memimpikan emas permata. Ia tersenyum. Ya tentu, tidak ada yang lebih membahgiakannya daripada melihat semua orang sejahtera. That is the whole idea of this war.

Hmm, is it? Mengapa bapak suka dengan kemeja putih? Gunung-gunung sudah bapak lewati. Banyak gunung penuh intan permata. Direktur Sarana Akademis. Dirjen di Departemen Tambang dan Energi. Ketua LIPI. Direktur PAU-ME.. ok yang ini saya tahu salah-salah bapak bisa tekor, tapi yang lain itu bukan saja basah… tsunami, pak… Bukan saja kecipratan, bapak menghindarpun akan basah kuyup.

Tapi kita tahu apa? Soal kaya raya, pak Samaun yang paling tahu. Ketika beliau lulus di Stanford, Silicon Valley baru mulai. Kalau ia mau, kaya rayalah beliau di Silicon Valley. Tapi ia memutuskan untuk pulang dan membangun ITB. Buat beliau, memperkaya bangsa itu jauh lebih penting daripada memperkaya diri sendiri. Oh boy, how he has lived through this credo…

Coba saja datang ke rumah Pak Samaun. Lihat sendiri kebersahajaan beliau. Lihat sendiri dindingnya. Lihat sendiri kursi tamu nya. Lihat sendiri rak buku nya. Lihat sendiri lah… If you ever need to preach about living full of integrity, just visit his house for five minutes folks!

Tahu tidak, pak Samaun itu selalu mempersilahkan orang lain duluan naik lift? Bila berpapasan di lorong, ia menepi duluan. (Saya juga begitu pak, tapi lebih karena takut kecopetan.) Betapa santun nya pak Samaun ini. Orang kecil pun ia hormati. Di istana atau di kantin mahasiswa, pak Samaun memperlakukan orang sama. Sepanjang hidup saya, tidak pernah sekalipun saya mendengar ia menjelekkan orang lain. Either you believe me or not, I don’t really care.. pokoknya tidak pernah.

Bahkan kami dimarahi habis waktu menggosipi dosen yang sibuk cari uang dengan mengajar sana-sini. Pertama: pendidik itu tidak boleh diketawai. Bisa saja dia mengajar karena mencintai murid-muridnya. Kedua: boleh dong tidak seragam di ITB ini. Apa hak kita untuk membuat orang lain sama dengan kita? We felt so stupid.

Apa beda guru dengan mahaguru? Guru adalah tempat kita belajar semasa hidupnya. Mahaguru masih terus mengajari kita bahkan setelah ia wafat. Ia mengajari akan kekayaan hidup. Ia mengajari tentang memajukan orang lain.

Ini rahasia ya, punten, ketika Prof Samaun harus dibedah di Perth, beliau butuh USD 25,000. Saya tahu persis pihak keluarga bingung karena tidak ada dana. Prof. Adang dan Prof Ilse membuka rekening dana kesehatan untuk beliau pada suatu siang. Wah, belum sempat sore, dalam hitungan jam, rekening itu sudah berisi lebih dari Rp 250 juta! Pada
saat mereka meminta untuk menghentikan pengiriman dana, dana sudah mencapai Rp. 400 juta lebih. Pelajaran berharga tentang makna kekayaan!

Ketika ada staf kami kehabisan beasiswa, beliau meminta kita menggunakan sisa dana kesehatan ini. Wah, no way pak, ini persembahan orang untuk kesehatan bapak. He was not very happy, but nothing he could do, karena dulu dia sendiri yang memaksa agar rekening itu tetap dipegang PAU.

Betapa kaya nya Prof Samaun. Semua membantu beliau dengan diam-diam. Biaya obat dan masuk rumah sakit konon tahu beres. Sya tidak pernah tahu. Semua mencintai beliau. Semua meninggalkan rumah untuk melawat rumah duka. Semua sembunyi-sembunyi meneteskan air mata. Semua bertekad meneruskan cita-cita beliau. Ia menginginkan intan permata buat semua. Tapi, ia memberi contoh kekayaan yang sebenarnya. Ah, sang mahaguru, dari liang lahat sekalipun masih juga kami diajari….

Kabar gembira. Pemakaman dipindah ke Taman Makan Pahlawan Kalibata! Ah, betapa senangnya hati ini. Akhirnya ada juga kebaikan bangsa ini kepada seorang mahaputera. Seperti biasa, saya tidak pernah tahu apa yang terjadi. Mesti ada yang menyayangi beliau dan diam-diam mengurusinya. Terimakasih. .. Terimakasih. …

Di ufuk barat awan kembali memerah… Dari kejauhan ia melambaikan tangannya. Balatentara melambaikan penghormatan pada panglima besar. Perang melawan kemiskinan belum selesai, tapi tugas panglima sudah selesai. Sang panglima sudah kembali menghadap Yang Maha Tinggi, tegap melaporkan pelaksanaan tugas-tugasnya di medan perang. Ah, Ia sudah menapaki puncak bersalju itu. Puncak kebesaran dalam kesahajaan. Ia sudah tiba di sana… panglima kita sudah tiba di sana…

Siapa bilang Tuhan tidak mengasihi bangsa kita. Tuhan maha baik, telah mengirimkan pada kita seorang mahaguru. Tuhan sungguh baik. Selama 75 tahun Ia memberikan pada bangsa ini seorang mahaputera yang mencintai bangsa ini sampai ke tulang sumsumnya.

Oktober 2004, prof Samaun tergesa-gesa mendatangani saya. Kamu punya eulogy untuk Prof. Kudrat bagus sekali. Aduh, dari matanya ia seperti bertanya: what are you going to write about me? Shut, I am trapped, nih. Betul kan, seminggu setelah beliau wafat, tidak ada yang bisa ditulis. Mau tulis apa? Wong konsentrasi kerja saja susah payah begini. Setiap kata pertama ditulis, pandangan jadi kabur karena airmata tidak mau
kompromi.

Baiklah, saya kira yang bisa saya tulis untuk bapak adalah doa syukur, terimakasih Tuhan, karena kami sudah diberi Prof Samaun Samadikun.
Terimakasih Tuhan, terimakasih. ..

Bandung, 20 November 2006.
AZRL


Semoga amal ibadah beliau diterima di sisiNya, dan mendapatkan
ganjaran yg baik & setimpal, amin!
Dan semoga semua mantan muridnya, apalagi yang dibimbingnya selama di kampus, dapat meneruskan langkah2nya. Amin.
Dari
hal-hal kecil pribadi sampai yang besar meluas dalam ruang dan waktu,
kami belajar banyak dari bapak. Terima kasih sekali, pak.
Selamat jalan pak.

Pahlawan? Hari?

November 14th, 2006 by huget
Pahlawan? Hari? Nov 10, ‘06 11:15 PM
for everyone

Allahu Akbar!

Tadi saya shalat Jumat di Dephan, dan penceramahnya bercerita tentang pak Dirman. Ketika tentara Belanda menyerang Yogyakarta
pada 19 Desember 1948, Panglima Besar Jenderal Soedirman baru saja
dioperasi paru-parunya sehingga hanya tinggal satu saja dan masih
lemah. Karena mendengar dentuman dan ledakan serta pesawat-pesawat
melintas, dengan bergegas pak Dirman mencoba untuk berdiri, bersiap,
dan menuju istana negara. Ketika bertemu presiden Soekarno, ia
memberikan kesiapannya untuk memimpin TNI dan kembali ke tengah
pasukan/para prajurit. Bung Karno berkata, "Dimas [panggilan akrab
untuk pak Dirman] istirahat saja dahulu karena masih sakit". Pak Dirman
menjawab, "Soedirman memang sakit, tetapi panglima TNI tidak boleh
sakit". Dan bung Karno tak dapat mencegah lebih lanjut, dan sejarah
mencatat pak Dirman bergerilya dengan ditandu, bukan berbaring di
rumah….

Dalam kejadian di Somalia 1993, terlepas dari hal-hal yang pro dan kontra, di mana  18 prajurit AS tewas. Dari 18 yang tewas itu hanya 2 yang mendapat medal of honour,
itu dikarenakan 2 orang itu memberikan lebih dari yang
diharuskan/diperintahkan. (At the second crash site, two Delta Force
snipers, SFC Randy Shughart and MSG Gary Gordon, were inserted by
helicopter (at their own request, permission was denied twice by
Command but granted when they persisted and made a third request) to
protect the injured crew from the approaching mob. Link).

Dulu
pernah baca sekilas kata2 depan buku "Bukan di Negeri Dongeng" yang
mengungkapkan bahwa betapa susahnya cari pahlawan atau orang yang
sangat baik di sekitar kita. Hmm saya sempat berkomentar bahwa bisa
benar dan bisa tidak, karena bisa saja justru ada di antara kita hanya
saja tidak disadari atau terdeteksi oleh kita. Kalau dalam TNI, semakin
hebat kemampuan seorang tentara maka akan terlihat pada bajunya
seberapa banyak brevet atau tab yang ada. Raider yang berkemampuan 3 kali kemampuan infanteri biasa, punya sekian brevet. Meningkat lagi jumlahnya pada Kopassus, Kopaska, Taifib Marinir, dan Korpaskhas.
Tapi ternyata kemudian yang lebih elit lagi malah tidak ada brevet dan
malah tidak ada tanda-tanda khusus atau berpakaian seperti orang-orang
kebanyakan atau umum. Malah, yang terakhir ini kalau bertugas,
kesuksesannya itu malah ada yang ditutupi seperti tidak ada apa-apa
sama sekali, kehidupan masyarakat umum berjalan seperti biasa. Hmm…

Cepat, Senyap, tepat.

Di TransTV tadi ada film "Tears of The Sun", terlepas dari pro dan kontra, saat akhir film ada kata-kata; "The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. - Edmund Burke ".

Pahlawan….
Di mana kah kau berada?
Apakah kau enggan? Segan? Bahkan hanya bayangan? Angan?
Ataukah aku yang tak merasa?
Bahwa kau sudah berada di lingkungan?
Ataukah sudah ada dalam diri ini tinggal dibuka saja?
Atau kah…..? Atau kah…..?
Entah lah….
Bingung, lelah.

———————————————
PFC Downey: I don’t understand. Colonel Jessep said he ordered the Code Red. What did we do wrong?
Galloway: It’s not that simple.
PFC Downey: What did we do wrong?! We did nothing wrong!
Lance
Cpl. Dawson: …yeah we did. We were supposed to fight for people who
couldn’t fight for themselves. We were supposed to fight for Willy.
Kaffee: Harold. You don’t need to wear a badge on your arm to have Honor.
Lance Cpl. Dawson: Ten-Hut! There’s an officer on deck.
From "A Few Good Men"

Langkah

May 12th, 2006 by huget

Jika malas mendera, berhenti sejenak dan cari lah asa.
Jika rasa dan asa tertemui, maka jalan jadi mudah dillangkahi.
Menengok ke belakang, agar tak lagi jadi penghalang.
Selamat berjalan, semoga Allah berkenan.
Amin.

Enemy of the State (1998)

May 12th, 2006 by huget

Film ini bercerita tentang pembunuhan senator yg melibatkan direktur NSA (National Security Agency).
Kejadian ini diketahui seorang pengamat satwa, yang akhirnya karena
dikejar oleh agen NSA, memberikan kepada seorang pengacara (Robert
Clayton Dean / Will Smith) tanpa diketahui si pengacara. Direktur NSA
menggunakan kekuatan/kekuasaan yg dimiliki NSA, membuat hari2 si
pengacara semakin berat. Dan, biasa lah, akhirnya si pengacara ini,
bersama mantan agen NSA yg ikut jadi target (Edward ‘Brill’ Lyle / Gene
Hackman), bisa mengalahkan si direktur NSA ini (Thomas Brian Reynolds /
Jon Voight).

Brill: You’re the threat now. Just like I was.
Robert Clayton Dean: Threat to whom? To them?
Brill:
No. To your family, your friends, everybody you know, everybody you
meet. That’s why I went away and didn’t come back. You’ve got to go
away, Robert.
Robert Clayton Dean: No, I don’t think so. This
is my life, I worked hard for it and I want it back. I grew up without
a father, I know what that is. And I will not allow my family to go
through that.

Teknologi
informasi memungkinkan integrasinya semua informasi / telekomunikasi,
diharapkan sangat meningkatkan efisiensi & efektivitas kegiatan
manusia. Dari makin mudahnya urusan perbankan, bisnis, & transaksi,
sampai pada pendidikan dan lain2. Tetapi seperti yang lain, hal ini
adalah netral alias bisa dipakai secara positif maupun negatif, dan
film ini menunjukkan pemakaiannya secara negatif dan masif.

Ketika membuka Yahoo Messenger, ada berita:

NSA has massive database of Americans’ phone calls:
By Leslie Cauley, USA TODAY
The
National Security Agency has been secretly collecting the phone call
records of tens of millions of Americans, using data provided by
AT&T, Verizon and BellSouth, people with direct knowledge of the
arrangement told USA TODAY.

Congress Demands Phone Records Answers:
By LAURIE KELLMAN and DONNA CASSATA, Associated Press Writer
31 minutes ago
WASHINGTON
- Lawmakers demanded answers from the Bush administration Thursday
about a spy agency secretly collecting records of millions of ordinary
Americans’ phone calls to build a database of all calls within the
country.

Data on Phone Calls Monitored:
Extent of Administration’s Domestic Surveillance Decried in Both Parties
By Barton Gellman and Arshad Mohammed
Washington Post Staff Writers
Friday, May 12, 2006; Page A01
The
Bush administration has secretly been collecting the domestic telephone
records of millions of U.S. households and businesses, assembling
gargantuan databases and attempting to sift through them for clues
about terrorist threats, according to sources with knowledge of the
program.

Lawyer: Ex-Qwest Exec Ignored NSA Request
By KATHERINE SHRADER, Associated Press Writers
WASHINGTON
- Telecommunications giant Qwest refused to provide the government with
access to telephone records of its 15 million customers after deciding
the request violated privacy law, a lawyer for a former company
executive said Friday. For a second day, the former National Security
Agency director defended the spy agency’s activities.
ADVERTISEMENT

In
a written statement, the attorney for former Qwest CEO Joseph Nacchio
said the government approached the company in the fall of 2001 seeking
access to the phone records of Qwest customers, with neither a warrant
nor approval from a special court established to handle surveillance
matters.

"Mr. Nacchio concluded that these requests violated the
privacy requirements of the Telecommunications Act," attorney Herbert
J. Stern said from his Newark, N.J., office.

— end of news —

Congressman Sam Albert:
[On TV] We knew that we had to monitor our enemies. We’ve also come to
realise that we need to monitor the people who are monitoring them…
Carla Dean: Well who’s gonna monitor the monitors of the monitors.
Robert Clayton Dean: I wouldn’t mind doing a little monitoring myself.

ECHELON
is a term associated with a global network of computers that
automatically search through millions of intercepted messages for
pre-programmed keywords or fax, telex and e-mail addresses. Every word
of every message in the frequencies and channels selected at a station
is automatically searched. The processors in the network are known as
the ECHELON Dictionaries. ECHELON connects all these computers and
allows the individual stations to function as distributed elements an
integrated system. An ECHELON station’s Dictionary contains not only
its parent agency’s chosen keywords, but also lists for each of the
other four agencies in the UKUSA system [NSA, GCHQ, DSD, GCSB and CSE]

Never Grow Up, My Friends

May 10th, 2006 by huget
The Spot: A burly, bearded man with an accent sits at a video-editing
console. He cues up some old footage of a little kid playing soccer.
Then he intercuts this with modern-day scenes of the kid all grown up,
still playing soccer. Kid and man both execute some astonishing moves,
bewildering their opponents and scoring goals at will. "So my advice to
you," says the bearded man, "is never grow up, my friends." As the spot
ends, we see the words "Joga Bonito" and a Nike swoosh. (Click here and mouse over the right-hand side of the screen to see the ad, called "RonaldinhoJoy.")

Di TV,
ada iklan Nike, yang memperlihatkan Ronaldinho [tahu kan? kalo ga,
tanya tetangga sebelah yg suka sepakbola ya! hehehe] ketika kecil
bermain futsal dan saat sekarang menjadi pemain sepakbola
Internasional. Diperlihatkan betapa Ronaldinho kecil begitu antusias
dgn futsal dan memperlihatkan permainan yg mengagumkan, begitu pula
ketika sudah menjadi pemain Internasional. Dan di akhir iklan, ada
kata2 "never grow up". Wah….. Merasuk pikiran/hati/qolbu…

Sifat
anak2 tidak selamanya / semuanya negatif ya. Mungkin yang tepat adalah
"menempatkan sesuatu pada tempatnya".  Melakukan sesuatu tanpa beban
(yang positif tentunya). Kalau pun ada, itu bukan beban, tetapi
tantangan, ya?

Dan selamat "bermain" semuanya, dalam apa saja.

Cinta?

May 1st, 2006 by huget

Love?

Wikipedia:
Love has several different meanings in the English language, from
something that gives a little pleasure ("I loved that meal") to
something that one would die for (patriotism, pair-bonding). It can
describe an intense feeling of affection, an emotion or an emotional
state. In ordinary use, it usually refers to interpersonal love. As an
experience usually felt by a person for another person, it is commonly
considered impossible to describe. Dictionaries tend to define love as
deep affection or fondness.[1] In colloquial use, according to polled
opinion, the most favoured definitions of love include the words:[2]

       

  1. life - someone or something for which you would give your life.
     
  2. care - someone or something about which you care more than yourself.
       
  3. friendship - favoured interpersonal associations or relationships.
       
  4. union - a synergistic connection, as in the perfect union of two souls.
     
  5. family - people related via common ancestry, religion, or race, etc.


The
concept of love, however, is subject to debate. Some deny the existence
of love, calling it a recently invented abstraction. Moreover,
approximately 13 percent of cultures reportedly have no word for
love.[3] Others maintain that love exists but is undefinable; being a
quantity which is spiritual, metaphysical, or philosophical in nature,
etc. Perhaps due to its emotional primacy, love is one of the most
common themes in art.

Cinta
itu memang kompleks, jadi kalau mau lebih baik, tentu memperhatikan
banyak unsur. Selama ini kalau antara lawan jenis, cinta itu dipastikan
"lust" ya? Tidak ada yg tidak ada "lust"? Atau kah kitanya saja yg
terperangkap oleh apa yg ada di masyarakat? Termasuk tafsir2 dari
ustad? Atau kah memang benar2 tafsir dari Quran & hadist?

Siti
Fatimah pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “ Wahai Ali
sesungguhnya sebelum menikah,ada laki-laki di kota Mekkah ini yang
sangat aku kagumi. “. “ Jadi engkau menyesal menikah denganku ? “ ujar
Ali. “Tentu tidak, karena laki-laki itu adalah engkau….. “

Bener ga ya cerita ini? . Kalo bener, wow! 

"hubbul wathon, minal iman", kata pak Umar bin Khattab. Dan banyak lagi cinta2 yg lain. Syarat2 cinta?

At
Taubah:24. Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara,
isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan,
perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang
kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari
berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang fasik.

Cinta, di mana kah kau?
Telah kah sampai ke qolbuku?
Yang terdalam yang berseru?
Hingga tak ada keindahan yang berlalu.
Dan ada senyum ketika telah tiba waktu.

Apakah Anda Mampu Mengatasi Stress??

April 5th, 2006 by huget

Pic06334 Apakah anda mampu mengatasi stress anda?

Please check this picture out…..

Seorang guru mengatakan "saya merasa gambarnya bergerak tetapi perlahan seperti bernafas"
Gambar - gambar ini dipergunakan untuk mengetahui level stress yang dapat ditangani seseorang. Semakin perlahan pergerakan gambarnya, semakin baik kemampuan seseorang mengatasi stress. Seorang kriminal yang pernah di test mengatakan gambar-gambar tersebut bergerak sangat cepat. Seorang usia lanjut dan anak-anak mengatakan gambarnya tidak bergerak. Gambar-gambar ini tidak ada yang animasi, murni gambar statis.

Selamat Mencoba…………………
^ - ^

Dapat dari teman di milist alumni. Benar ga ya?

Dekade Lalu

April 5th, 2006 by huget

Ketika Internet mulai masuk kampus.
Ketika unit perlu juga diurus.
Tapi makan kue & minum dulu, biar tidak haus.

Sesepuh

12 Rabiul Awal 1394H semakin menjauh.

Globalisasi Versi 3.0

February 1st, 2006 by huget

   
Pada securitysummit2005 di Hotel Shangri-La, Jakarta, 13 - 14 Desember 2005. Keynote speaker adalah pak Budi Rahardjo,
dosen di kampus. Dan ada banyak hal menarik, salah satunya adalah
tentang Globalisasi. Di awal perkenalan dalam materi presentasinya ada
kata "Budi Rahardjo, version 3.0", nah apa itu version 3.0? Ternyata
itu  diambil dari teori Globalisasi menurut Thomas L. Friedman dalam bukunya "The World Is Flat: A Brief History Of The Twenty-first Century (2005)".


Globalization 1.0
(1492 to 1800 AD) which was driven by countries and muscles.
Globalization 2.0 (1800 to 2000 AD) which was driven by multinational companies and came in two parts, the first marked by "falling transportation costs," and the second by "falling telecommunication costs".

Globalization 3.0
(years beginning in 2000) which will be marked by the empowerment of individuals.

Dalam terjemahannya pak Budi:
Globalisasi 1.0 dimulai ketika
jaman penjajahan (kolonialisme) dahulu. Pada jaman itu beruntunglah
seseorang yang menjadi warga negara besar (negara penjajah? seperti
Inggris, Belanda, Spanyol, dan seterusnya). Rugilah individu yang
menjadi warga negara yang dijajah seperti Indonesia. Kemakmuran
seseorang ditentukan oleh kewarganegaraannya. Itulah sebabnya orang
berbondong-bondong ingin menjadi warga negara dari negara besar
tersebut.

Globalisasi 2.0
terjadi karena adanya industri dan bisnis. Peta kesuksesan berubah
dengan munculnya perusahaan besar (multinational companies). Tidak
penting lagi warga negara seseorang. Anda boleh menjadi warga negara
Nigeria, Indonesia, India, Inggris, atau Amerika, yang penting adalah
Anda menjadi bagian dari perusahaan besar seperti IBM, General Electric
(GE), Schlumberger, dan seterusnya. Rugilah orang yang menjadi pegawai
negeri (PNS). Ha ha ha. Maka berbondong-bondonglah orang ingin bekerja
di perusahaan multinasional ini.

Globalisasi 3.0
tidak lagi mementingkan kewarganegaraan ataupun perusahaan besar. Anda
adalah diri Anda sendiri. Globalisasi 3.0 dimungkinkan dengan adanya
teknologi informasi (seperti adanya Internet) yang memberdayakan
individu-individu. Bisnis, usaha, karya, dan layanan dapat Anda lakukan
dari rumah Anda. Anda tidak perlu menjadi warga negara dari sebuah
negara tertentu ataupun menjadi pegawai dari perusahaan besar. Anda
dapat sukses dengan menjadi diri Anda sendiri.

Nah, siapkah kita untuk mengikuti globalisasi 3.0 ini?
—– end quote of Mr Budi Rahardjo —

Potensi Diri
Manusia memang tidak bisa terbang seperti burung dengan sayapnya.
Tetapi burung tidak bisa terbang seperti manusia, sampai ke ruang hampa
dan ke bulan.
Kalo bagi saya & teman2, manusia itu punya potensi yg sangat besar.
Sepertinya banyak masalah yg sebenarnya bisa diatasi, dan itu
sebenarnya bisa jadi cuma masalah kemauan, motivasi, atau kejiwaan saja.

Masing2 pribadi bisa mempunyai potensi keunggulannya sendiri. Kalo kata seniro waktu OS HME, "Beda-beda jagonya, jago-jago semuanya".
Nah, sudah kah meng-upgrade diri anda menjadi versi 3.0 ?
Dan siap menjadi diri anda sendiri dalam menghadapi dunia ini?
Independensi?

Dependence, Independence, or  Interdependence?
In
"seven habits" :
The first three habits, Covey says, are habits of independence. They
will help you achieve a private victory of being more personally
effective and independent.

The remaining habits in The Seven Habits of Highly Effective People are habits of interdependence. Rather than being dependent upon other people, or trying to be totally independent, we learn how to be more effective by effectively working with others.

Covey writes: "Independent thinking alone is not suited to
interdependent reality. Independent people who do not have the maturity
to think and act interdependently may be good individual producers, but
they won’t be good leaders or team players. They’re not coming from the
paradigm of interdependence necessary to succeed in marriage, family,
or organizational reality."

From Richard Hoshino:
Dependence is the paradigm of you – you take care of me; you come through for me; you didn’t come through; I blame you for the results.
Independence is the paradigm of I – I can do it; I am responsible; I am self-reliant, I can choose.
Interdependence
is the paradigm of we – we can do it; we can cooperate; we can combine
our talents and abilities and create something greater together.
Dan itu baru "seven habits", belum soal "8th habit".
Dan ada hal yg menarik pada alamat Link ini .
Dan apa kesimpulan untuk masa depan? Baik anda sendiri dan dunia?


I think I need to upgrade to version X.0

Pagi Ini 24 Oktober 2005

October 23rd, 2005 by huget
Senin 24 Oktober 2005.
Ketika di atas
bus Mayasari Bakti 107, tersadar bahwa udara terasa sedang, cenderung
sejuk. Tidak panas seperti biasa. Kemudian melihat sinar matahari yg
mengenai tangan saya, ternyata tidak panas. menengadah ke atas,
ternyata matahari memang tertutup awan mendung sedang, yg tipis
sehingga sinar matahari tetap sampai namun tidak terik. Ditambah jalan
yang tidak macet seperti biasa, mungkin karena Romadhon.  Padahal
jam 10 siang lho! Yang biasanya macet, terik, dan cukup terasa asap
polusinya di hidung! Itu lah Jakarta sehari2.

Apakah ada kaitan Lailul Qodar? Entahlah. Mudah2an semua mendapatkannya. Amin.
Memang beberapa hari kemarin, Jakarta disertai mendung & hujan.
Dan mungkin akan berlanjut untuk sekian hari ke depan [Ramalan cuaca? ]
Saya coba menikmati perjalanan dalam bus ini. Sebuah "oase" dalam menjalani ruang dan waktu.

Morning has broken
Like the first morning
Blackbird has spoken
Like the first bird
Praise for the singing
Praise for the morning
Praise for them springing
Fresh from the world

Sweet the rains new fall
Sunlit from heaven
Like the first dew fall
On the first grass
Praise for the sweetness
Of the wet garden
Sprung in completeness
Where his feet pass

Mine is the sunlight
Mine is the morning
Born of the one light
Eden so play
Praise with elation
Praise every morning
God’ s recreation
Of the new day

Morning has broken
Like the first morning
Blackbird has spoken
Like the first bird
Praise for the singing
Praise for the morning
Praise for them springing
Fresh from the world

-Cat Stevens/Yusuf Islam-

Before the life battlecry recited again…..